Dari Visa sampai Atur Kerumunan, Begini Cara Teknologi Ubah Wajah Penyelenggaraan Haji dan Umrah

Bagikan ke :

ChatGPT Image Sep 10, 2026 at 09_19_34 AM.png

HIMPUHNEWS — Perjalanan haji dan umrah yang setiap tahun melibatkan jutaan umat Islam kini semakin bergantung pada teknologi. Bukan hanya dalam urusan pemesanan perjalanan, digitalisasi juga telah masuk ke sistem perizinan, transportasi, pembayaran, hingga pengaturan arus jamaah di kawasan suci.

Perubahan ini menjadi penting karena penyelenggaraan haji dan umrah menghadapi tantangan logistik yang sangat besar. Jutaan orang harus bergerak melalui sejumlah lokasi yang sama dalam waktu relatif singkat, sehingga pengelolaan kerumunan, keamanan, dan layanan menjadi bagian penting dari penyelenggaraan ibadah.

Salah satu perubahan paling terlihat adalah semakin banyaknya proses perjalanan yang dapat dilakukan melalui telepon pintar. Jika sebelumnya pengurusan umrah identik dengan dokumen fisik, pengiriman paspor, serta komunikasi berulang dengan agen perjalanan, kini sebagian besar proses dapat dilakukan secara digital.

Nusuk Jadi Pintu Masuk Digital

Transformasi tersebut salah satunya ditopang oleh Nusuk, platform digital resmi yang dikembangkan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.

Platform ini awalnya digunakan untuk membantu pengelolaan kerumunan pada masa pandemi. Namun, fungsinya kemudian berkembang menjadi pintu masuk digital yang mengintegrasikan berbagai kebutuhan perjalanan haji dan umrah.

Melalui Nusuk, jamaah dapat mengakses layanan terkait visa, izin, jadwal kunjungan ke Raudhah, transportasi, hingga akomodasi dalam satu sistem.

Izin perjalanan juga dapat disimpan secara digital dan dilengkapi QR code yang dipindai ketika jamaah memasuki lokasi tertentu. Sistem ini secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap dokumen kertas dan proses administrasi manual.

Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi menyebut platform tersebut kini mendukung lebih dari seratus layanan dan telah digunakan oleh puluhan juta pengguna di berbagai negara.

AI Ikut Mengatur Pergerakan Jamaah

Teknologi juga digunakan untuk membantu mengendalikan pergerakan jamaah di lokasi-lokasi dengan kepadatan tinggi.

Melalui kombinasi GPS, sensor, dan analitik berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sistem dapat memantau tingkat kepadatan di Masjidil Haram dan Raudhah secara real time.

Informasi kepadatan kemudian ditampilkan melalui sistem sederhana seperti indikator warna di aplikasi maupun papan digital. Jamaah dapat mengetahui pintu masuk atau area salat yang relatif lebih lengang dan menghindari lokasi yang telah penuh.

Sistem tersebut juga dapat mengarahkan jamaah menuju pintu masuk atau waktu kunjungan yang lebih memungkinkan untuk mengurangi penumpukan.

Penggunaan teknologi semacam ini memungkinkan otoritas melakukan pengelolaan kerumunan yang sebelumnya sulit dilakukan secara cepat dan terukur.

Hadir Digital Mutawwif

Pemanfaatan AI juga berkembang melalui fitur “Digital Mutawwif” yang tersedia dalam aplikasi Nusuk.

Fitur tersebut berfungsi sebagai pemandu digital berbasis AI yang dapat mengenali posisi jamaah dan tahapan perjalanan ibadah yang sedang dilakukan.

Dengan pendekatan tersebut, jamaah dapat memperoleh panduan multibahasa mengenai rangkaian ibadah sesuai dengan lokasi dan tahap perjalanan mereka.

Bagi jamaah yang baru pertama kali melaksanakan ibadah dan belum sepenuhnya memahami kondisi lapangan, teknologi ini dapat berfungsi layaknya pendamping digital selama menjalani rangkaian perjalanan.

Industri Travel Ikut Bergeser ke Digital

Transformasi tidak hanya terjadi pada sistem pemerintah. Industri perjalanan haji dan umrah juga semakin bergerak ke model layanan digital.

Jamaah kini terbiasa mencari, membandingkan, dan memesan paket perjalanan secara daring. Layanan tersebut dapat mencakup tiket penerbangan, hotel di sekitar kawasan suci, transportasi, serta pendampingan ibadah.

Perubahan perilaku tersebut memaksa perusahaan perjalanan beradaptasi dengan ekspektasi konsumen yang semakin mengutamakan kecepatan dan kemudahan.

Operator perjalanan di Inggris, misalnya, mulai mengintegrasikan proses pemesanan dengan sistem izin resmi sehingga visa, akomodasi, dan permit jamaah dapat diselaraskan sebelum keberangkatan.

Bagi jamaah, sistem semacam ini dapat mengurangi jumlah formulir yang harus diisi sekaligus menekan potensi kesalahan administrasi.

Sementara bagi operator, digitalisasi membuat proses layanan semakin menyerupai ekosistem e-commerce dibandingkan pola biro perjalanan berbasis dokumen fisik seperti beberapa tahun lalu.

Menuju Perjalanan Haji dan Umrah Tanpa Uang Tunai

Perubahan besar lainnya terjadi pada sistem pembayaran.

Nusuk Wallet dikembangkan oleh Kementerian Haji dan Umrah bersama Saudi National Bank serta mendapat persetujuan dari Saudi Central Bank.

Dompet digital tersebut disebut sebagai salah satu layanan pembayaran internasional yang dirancang khusus untuk kebutuhan jamaah.

Dengan layanan ini, jamaah dapat melakukan transaksi tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah besar. Sistem pembayaran juga memanfaatkan verifikasi biometrik dan enkripsi untuk meningkatkan keamanan transaksi.

Keberadaan dompet digital menjadi relevan karena jamaah haji dan umrah berasal dari lebih dari seratus negara dengan mata uang dan sistem perbankan yang berbeda-beda.

Penggunaan satu platform pembayaran digital dinilai dapat menyederhanakan transaksi selama jamaah berada di Arab Saudi.

Bagian dari Transformasi Vision 2030

Digitalisasi penyelenggaraan haji dan umrah juga menjadi bagian dari agenda transformasi Arab Saudi melalui Vision 2030 dan Pilgrim Experience Programme.

Program tersebut menempatkan peningkatan kapasitas dan kualitas layanan jamaah sebagai salah satu agenda utama.

Di balik layanan yang langsung digunakan jamaah, otoritas juga memanfaatkan analitik data dan pengenalan pola untuk memperkirakan permintaan, merencanakan kapasitas, serta mengantisipasi potensi kepadatan sebelum terjadi.

Arah pengembangannya semakin jelas menuju otomatisasi, personalisasi layanan, serta semakin besarnya peran perangkat lunak dalam seluruh perjalanan jamaah.

Meski demikian, teknologi pada akhirnya bukan menjadi tujuan utama. Digitalisasi diarahkan untuk mengurangi hambatan administratif dan operasional agar jamaah dapat lebih fokus pada tujuan utama perjalanan mereka, yakni menjalankan ibadah.

Sumber : himpuh.or.id

Scroll to Top