Pelayanan Haji Diperkuat, Kemenhaj Terapkan Pola Baru Pembinaan Petugas

Bagikan ke :

6e67ac34-97f7-4fae-9777-dc67826ad24a-1768143164206.JPG

HIMPUHNEWS – Upaya peningkatan kualitas pelayanan ibadah haji kembali diperkuat. Pemerintah menerapkan pola pembinaan baru bagi petugas haji Indonesia dengan durasi pelatihan yang lebih panjang dan sasaran yang lebih terukur, menyasar kesiapan fisik hingga soliditas tim di lapangan.

Kementerian Haji dan Umrah RI menggelar Bimbingan Teknis Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi selama 20 hari, mulai 10 hingga 30 Januari 2026, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Pola pelatihan ini menekankan empat sasaran utama yang dinilai krusial dalam penyelenggaraan haji.

Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah RIDendi Suryadi, menjelaskan bahwa empat sasaran tersebut meliputi kekuatan fisik, ketangguhan mental, kompetensi teknis, serta kekompakan tim antarpelayan jamaah.

Fisik dan Mental Jadi Pondasi Pelayanan

Menurut Dendi, ibadah haji menuntut daya tahan fisik yang tinggi, sehingga petugas dituntut berada dalam kondisi lebih prima dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain fisik, mental melayani juga menjadi penekanan utama dalam pembinaan kali ini.

“Haji itu 90 persen ibadah fisik. Maka petugasnya juga harus lebih kuat. Selain itu, mentalnya harus siap melayani, karena petugas itu pelayan jamaah,” ujar Dendi.

Ia menegaskan, fisik yang bugar harus berjalan beriringan dengan mental tangguh, pengetahuan yang sesuai tugas dan fungsi, serta kemampuan bekerja dalam tim secara solid agar pelayanan berjalan optimal.

Latihan Disiplin hingga Simulasi Operasional Haji

Dalam pelaksanaannya, pelatihan ini melibatkan unsur lintas instansi, termasuk Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Nilai-nilai kedisiplinan, keberanian, semangat, dan kekompakan dari kedua institusi tersebut diadopsi dalam pola pembinaan petugas haji.

“Kita ingin menghadirkan petugas haji yang profesional dan berintegritas. Disiplin, keberanian, dan kekompakan itu menjadi nilai penting yang kita bawa,” kata Dendi.

Pada pekan pertama, peserta dibekali latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB) guna membiasakan diri mendengar dan menjalankan instruksi secara cepat dan tepat.

“PBB itu penting untuk melatih kedisiplinan dan ketaatan pada instruksi. Siap, dengar perintah, lalu bergerak,” jelasnya.

Memasuki pekan berikutnya, pelatihan difokuskan pada tugas dan fungsi masing-masing petugas, mulai dari layanan bandara, akomodasi, konsumsi, kesehatan, Siskohat, hingga media dan kehumasan. Seluruh rangkaian operasional haji juga disimulasikan secara menyeluruh.

“Semua itu operasional dan berulang setiap tahun. Kalau polanya sudah ketemu, ke depan akan semakin baik,” tambahnya.

Tantangan Bertugas di Wilayah Otoritas Arab Saudi

Dendi juga menyoroti tantangan pelayanan haji di bawah otoritas negara lain, yakni Arab Saudi. Menurutnya, komunikasi menjadi kunci utama dalam menghadapi karakter penanganan jamaah lintas negara.

“Wajar kalau aparat Saudi terlihat tegas. Mereka menghadapi jamaah dari seluruh dunia, bukan hanya dari Indonesia,” ujarnya.

Sebanyak 179 personel TNI dan Polri dilibatkan sebagai pelatih dalam bimtek ini. Dendi mengapresiasi dukungan pimpinan kedua institusi tersebut, mengingat penyelenggaraan haji merupakan agenda nasional berskala besar.

“Haji ini hajatan besar, bahkan terbesar kedua setelah mudik Lebaran. Ini adalah tanggung jawab nasional,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dendi mengingatkan bahwa menjadi petugas haji merupakan tugas yang mulia. Pemerintah juga memberi kesempatan berhaji bagi petugas yang belum pernah menunaikannya, dengan ketentuan tertentu.

“Petugas yang belum berhaji boleh melaksanakan haji, tapi saat wukuf di Arafah tidak boleh melepas seragam dan tidak mengenakan ihram. Itu melanggar sunnah, bukan rukun, dan bisa ditebus dengan dam. Ini adil, karena jutaan jamaah sudah menunggu antrean,” jelasnya.

Pelatihan yang relatif panjang ini juga dimaksudkan untuk membangun kebersamaan antarpersonel sejak masih di Tanah Air.

“Kalau sudah saling kenal, akan muncul rasa kebersamaan. Kita ingin bersatu dalam kebaikan dan kebenaran,” tutur Dendi.

Sumber : himpuh.or.id

 

Scroll to Top