
HIMPUHNEWS — Cuaca panas ekstrem di Tanah Suci menjadi tantangan serius bagi jemaah haji Indonesia, terutama menjelang fase puncak ibadah yang menuntut aktivitas fisik tinggi di luar ruangan. Dokter mengingatkan jemaah untuk mewaspadai tanda-tanda dehidrasi sejak dini agar kondisi kesehatan tidak memburuk hingga memicu heatstroke.
Dokter spesialis gizi klinik Dr. dr. A. Yasmin Syauki, M.Sc., Sp.GK(K), MHPE mengatakan dehidrasi kerap diawali dengan gejala sederhana yang sering diabaikan, salah satunya perubahan warna urine.
“Tanda-tanda dehidrasi itu sebenarnya lemas, kemudian kalau misalnya yang sebelum lemas mungkin kita bisa lihat warna kencing kita itu warnanya apa,” kata Dr. dr. A. Yasmin Syauki, M.Sc., Sp.GK(K), MHPE saat dilansir ANTARA pada Rabu (13/05).
Menurut Yasmin, warna urine yang semakin pekat menjadi indikator awal tubuh mulai kekurangan cairan.
“Ketika dia warnanya pekat, maka kemungkinan kita dehidrasi. Jadi sudah tidak terlalu kuning, bukan kuning jernih, jadi kuningnya pekat, maka itu sudah mengalami dehidrasi,” katanya.
Gejala Dehidrasi Bisa Disertai Pusing hingga Pandangan Buram
Peringatan serupa juga disampaikan dokter spesialis gizi klinik dr. Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, Sp.GK dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Ia menyebut dehidrasi bisa ditandai dengan tubuh terasa lemas, rasa limbung, nyeri kepala, mual, hingga pandangan buram. Jika gejala tersebut muncul, jemaah diminta segera menambah asupan cairan agar kondisi tidak semakin memburuk.
“Kita segera menambah asupan cairan kita untuk menghindari respons dehidrasinya,” kata dr. Yasmin.
Selain dehidrasi, jemaah juga diminta waspada terhadap risiko heatstroke akibat paparan suhu panas ekstrem selama beribadah.
“Heatstroke itu berarti panas yang tidak bisa dikendalikan oleh tubuh, sehingga kita seperti sesak napas, kemudian pusing,” katanya.
“Kemudian tubuh kita tidak bisa melakukan kompensasi, itu langsung tiba-tiba bisa sesak, lemas, pusing,” ia menambahkan.
Dokter Sarankan Minum 150 Ml Air per Jam
Untuk mencegah dehidrasi, dr. Pande menyarankan jemaah mengonsumsi air mineral secara rutin, bukan menunggu rasa haus muncul.
“Usahakan konsumsi air mineral 150 mililiter per jam untuk menjaga hidrasi selama melakukan kegiatan ibadah,” kata Pande Putu.
Ia menjelaskan kebutuhan cairan normal orang dewasa berkisar delapan hingga 10 gelas per hari dengan ukuran 250 mililiter per gelas. Namun kebutuhan tersebut dapat meningkat selama menjalani ibadah haji karena suhu panas dan aktivitas fisik yang lebih intens.
Jemaah juga diingatkan tidak menjadikan rasa haus sebagai satu-satunya indikator kebutuhan cairan, karena pada kondisi dehidrasi kronis sensasi haus bisa berkurang.
Dokter menyarankan konsumsi cairan dilakukan sedikit demi sedikit namun konsisten sepanjang hari, terutama saat banyak beraktivitas di luar ruangan.
Gunakan Pelindung Kepala hingga Kanebo Basah
Sebagai langkah pencegahan terhadap dampak panas ekstrem, Yasmin mengimbau jemaah menggunakan pelindung kepala saat berada di luar ruangan.
Sementara ketika berada di tenda, khususnya di Mina yang dikenal bersuhu tinggi, jemaah dapat menggunakan kain atau kanebo basah untuk membantu menurunkan suhu tubuh.
“Dengan membasahi kanebo dengan air sehingga kepala kita suhunya tetap dingin, tidak panas,” katanya.
Selain air putih, jemaah juga dianjurkan mengonsumsi buah dengan kandungan air tinggi serta makanan berkuah untuk membantu menjaga kecukupan cairan tubuh.
“Air elektrolit dapat diperlukan, tapi bukan menjadi minuman utama dan tetap harus dikombinasikan dengan air mineral,” ujarnya.
Sumber : himpuh.or.id

